Tradisi memanen padi dengan peralatan yang masih tradisional masih di pertahankan di Bali.

Sawah tidak bisa terlepas dari kehidupan masyarakat Bali, karena sawah adalah sumber kehidupan mereka. Dari sawah ini mereka bekerja untuk menafkahi keluarga dan juga untuk makan sehari hari baik beras maupun sayur mayur berasal dari sawah. Oleh karena itu sawah di Bali sangat dijaga keberadaanya, bahkan di upacarai oleh umat hindu yang ada di Bali. Mereka percaya Dewi Sri atau Dewi Keseburan bersemayam di sawah sawah yang ada di Bali. Sumber air dan keberadaan sawah di Bali sangat di muliakan.

Tradisi Manyi atau panen Padi.

Setiap daerah di Bali punya tradisi yang berbeda untuk memanen padi maksudnya cara mereka memanen Padi itu sendiri baik dari upacara maupun alat yang digunakan untuk memetik sampai dengan merontokan bulir padi itu sendiri. Seperti di Beberapa desa di Kabupaten tabanan, Kita masih menjumpai beberapa wilayah masih menggunakan cara tradisional memanen Padi yang dikenal dengan nama “Manyi” Cara merontokan bulir padi ini masih sangat tradisional dengan alat yang terbilang sangat sederhana yang bernama Pengedigan ( papan kayu berpenyangga). Dengan tenaga manusia, padi yang sudah dipotong akan dipukulkan ke alat ini sehingga bulir padinya rontok untuk proses penjemuran lebih lanjut. Dari pengamatan saya tidak ada teknis khusus yang digunakan saat manyi ini. Hanya saja pada saat memegang pohon padi itu harus di sesuaikan dengan pegangan kedua tangan kita (bisa dilihat di foto). Tradisi manyi ini banyak juga dilakukan oleh para Ibu. Biasanya selain untuk konsumsi sendiri padi atau gabah ini biasanya dijual kepada pengepul untuk kebutuhan mereka sehari hari.

Di tengah himpitan modernisasi peralatan pertanian, Tradisi manyi ini masih terjaga lestari di Bali dan semoga bisa terus eksis sebagai salah satu daya tarik wisata dan juga warisan budaya di Bali. Dapatkan paket tour di Bali untuk melihat tradisi ini bersama kami.

WhatsApp Kami
Powered by