Keunikan balap kerbau dan satu satunya di Bali hanya ada  di Bumi Makepung Jembrana, Jika Madura punya Karapan Sapi, maka Bali punya Makepung.

Jika Madura punya Karapan Sapi, maka Bali punya Makepung – Bali selain terkenal dengan keindahan alamnya juga ternyata terkenal dengan tradisi dan budaya yang dimilikinya. Tradisi- tradisi tersebut adalah tradisi yang sudah ada sejak jaman nenek moyang dan masih menjadi tradisi masyarakatnya sampai dengan saat ini karena memiliki makna yang sangat penting. Tradisi- tradisi tersebut sangat beragam. Dimulai dari tradisi pemakaman di Truyan sampai dengan tradisi Makepung di kabupaten Jembrana, Bali Barat. Makepung termasuk tradisi olah raga bagi masyarakat kabupaten Jembrana di Bali. Tradisi di Bumi Makepung ini adalah tradisi yang sangat menarik karena merupakan tradisi adu balap kerbau. Hampir sama dengan tradisi karapan sapi yang ada di Madura. Hanya saja di Jembrana Bali yang digunakan adalah hewan kerbau bukan sapi. ( Baca juga : “Megibung” Tradisi Makan Bersama di Bali )

Sejarah Makepung.

Sebagai daerah agraris dengan penduduk yang sebagian besar berprofesi sebagai petani, Kabupaten Jembrana juga dikenal dengan populasi kerbaunya yang dikembangkan oleh masyarakat setempat. Dahulunya, kerbau ini dipergunakan untuk keperluan membajak sawah dan pengolahan tanah sebelum musim tanam padi. Pekerjaan ini biasanya dilaksanakan secara gotong royong oleh masyarakat sambil mengadu kecepatan kerbau berlari di lahan basah dengan menarik lampit (alat perata tanah). Selain itu, kerbau juga dimanfaatkan sebagai penarik pedati yang mengangkut hasil panen dari sawah ke rumah masing-masing. Dari kebiasaan menarik pedati pengangkut hasil panen tersebut kemudian muncul keinginan dari para pemilik kerbau untuk berpacu mengadu kecepatan lari kerbau di jalan-jalan di tengah persawahan sambil menarik pedati masing-masing. Tradisi inilah yang kemudian berkembang sebagai sebuah tradisi dengan nama “Makepung”.

Aturan Permainan Mekepung.

Makepung dalam bahasa Indonesia bermakna kejar- kejaran. Jika Madura punya Karapan Sapi, maka Bali punya Makepung yaitu tradisi lomba pacu kerbau yang sudah lama melekat di masyarakat Jembrana Bali. Awalnya, tradisi ini hanyalah semacam permainan bagi petani Jembrana Bali disela- sela kegiatan membajak. Secara teknis, Makepung hampir sama dengan perlombaan karapan sapi di Madura. Seorang joki pengendara kerbau berdiri pada cikar (gerobak) ukiran khas bali yang akan ditarik oleh kerbau. Hanya saja terdapat sebuah keunikan didalam peraturan lomba Makepung Jembrana yang berbeda dengan karapan sapi Madura. Makepung di Jembrana memiliki aturan yang sedikit unik, bahkan diantara peraturan adu cepat lainnya yang ada didunia. Karena pemenang lomba bukan ditentukan dari siapa yang berhasil mencapai garis finish terlebih dahulu, melainkan ditentukan oleh jarak yang berhasil dibuat antar peserta yang sedang bertanding. Pemenang Makepung ditentukan jika yang terdepan didalam pertandingan berhasil menjaga jarak dengan lawan dibelakangnya sejuh 10 meter. Dan jika peserta yang berada dibelakang dapat mempersempit jarak menjadi kurang dari 10 meter, maka peserta yang dibelakanglah yang menjadi pemenang. Sedangkan untuk arena yang dijadikan track lomba adalah berupa track tanah yang bebentuk huruf U dengan panjang mencapai 2 Km.

Waktu Pelaksanaan Mekepung di Jembrana.

Dalam perkembangannya, Makepung akhirnya menjadi sebuah tradisi khas masyarakat Jembrana yang tetap dilestarikan dan bahkan menjadi land mark-nya Jembrana, sehingga Kabupaten Jembrana juga dikenal sebagai ”Bumi Makepung”. Selama ini, makepung dengan segala daya tarik dan keunikannya, telah dikreasikan dan dikemas sebagai salah satu even wisata andalan Kabupaten Jembrana, dalam bentuk Lomba Makepung yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun, pada Bulan Juli sampai dengan Nopember.

Ada 10 kali lomba pada 6 lokasi berbeda yang dilaksanakan setiap tahunnya, pada Hari Minggu setiap 2 minggu sekali. Dari 10 kali Lomba tersebut, terdapat 2 Lomba Makepung yang dilaksanakan secara special yakni Lomba Makepung Bupati Cup pada Bulan Agustus dan Jembrana Cup pada Bulan Nopember. Yang tidak kalah menarik dalam lomba makepung adalah kerbau dan kereta atau pedati yang dipergunakan dihias atraktif dengan berbagai ornamen dan aksesoris tradisional Bali yang indah dan menarik, termasuk para Joki (pengendara) juga menggunakan pakaian tradisional Bali. Dalam setiap perlombaan, jumlah peserta mencapai 500 pasang kerbau yang terbagi dalam 2 regu, dan 4 kelas. Pelaksanaannya bisa jadi berubah tempat tergantung konidisi sirkuit atau lapangan saat penyelengaraan pertandingan. (Lihat Budaya Bali Lainnya ).

Tempat Pelaksanaan Makepung.

Pergelaran tradisi Makepung ini juga digelar dalam beberapa sirkuit di Jembrana. Beberapa sirkuit yang ada di jembrana, yaitu sirkuit Awen, Sanghyang Cerik , Delodbrawah, Kaliakah, Mertasari dan sirkuit Pangkung Dalem. Sirkuit tersebut berbentuk letter U dengan panjang lintasan 1 – 2 km. Adapun perlengkapan pendukung yang digunakan untuk makepung diantaranya cikar, alat pemukul kerbau yang berisi paku serta aksesoris lain. Cikar ini nantinya sebagai tempat si tukang lempang (joki) dalam mengendalikan kerbau. Pemukul yang berisi paku digunakan untuk memukul kerbau agar ia terpacu lebih cepat dalam berlari. Pemukul yang dilengkapi dengan paku ini dimaksudkan agar ketika dipukul darah kerbau keluar sehingga kulit kerbau tidak mengeras dan lebam. Luka yang membekas pada kulit kerbau karena pukulan tersebut nantinya dapat disembuhkan dengan obat tradisional. Sedangkan aksesoris lain ini biasanya digunakan untuk menghias kerbau yang digunakan dalam makepung.

Hiburan saat Pelaksanaan Makepung di Bali.

Setiap acara pertandingan diiringi dengan musik Jegod yang merupakan musik tradisional khas Bumi Makepung Jembrana diiringi juga dengan tari Makepung oleh para remaja putri. Suasananya akan begitu ramai dan meriah, sehingga sangat disayangkan jika anda liburan ke Bali pada periode Juli – Nopember tidak menikmati pertunjukan tersebut.

Makepung di Jembrana adalah bagian dari warisan Nusantara yang harus selalu dijaga oleh generasi muda Indonesia. Karena Makepung di Jembrana adalah bagian dari Indonesia. Tidak hanya sebagai budaya yang diwariskan secara turun temurun, makepung secara tidak langsung telah mendatangkan manfaat ekonomi. Baik untuk pelaku dari makepung sendiri maupun masyarakat tempat diadakannya lomba makepung. Kerbau makepung jelas memiliki harga jual yan tinggi. Terlebih jika kerbau tersebut pernah menjadi juara. Untuk kerbau makepung memiliki harga jual sekitar 60 juta per kerbau. Sedangkan kerbau biasa hanya memiliki harga jual sekitar 4 juta. Sedangkan manfaat untuk masyarakat lokal tempat diselenggarakannya makepung yaitu membuat perputaran ekonomi di daerah tersebut semakin hidup.

WhatsApp Kami
Powered by